Langsung ke konten
Pendidikan

Ribuan Umat Katolik Padati Pusat Kerohanian Karmel Bandol, Ziarah Bulan Rosario Ditutup dengan Perayaan Ekaristi

Diperbarui
Ribuan Umat Katolik Padati Pusat Kerohanian Karmel Bandol, Ziarah Bulan Rosario Ditutup dengan Perayaan Ekaristi

BANDOL, LANDAK — Suasana iman dan kebersamaan menyelimuti Pusat Kerohanian Karmel di Bandol, Desa Untang, Kecamatan Banyuke Hulu, Kabupaten Landak, Keuskupan Agung Pontianak, pada Minggu, 25 Oktober 2026. Sekitar 2.000 umat Katolik dari berbagai daerah di Kalimantan Barat menghadiri Misa Penutupan Ziarah Gua Maria Shanti Buana dalam rangka Bulan Rosario.

 Sebelum perayaan Ekaristi dimulai pada pukul 09.30 WIB, umat terlebih dahulu mengikuti doa Rosario bersama. Doa tersebut menjadi ungkapan iman, pengharapan, dan penyerahan diri kepada Tuhan melalui perantaraan Bunda Maria, sekaligus meneguhkan semangat umat untuk terus bertumbuh dalam kehidupan rohani.

 Kehadiran umat dalam jumlah besar mencerminkan antusiasme umat Katolik untuk mengambil bagian dalam kegiatan ziarah dan memperdalam relasi pribadi dengan Tuhan. Pusat Kerohanian Karmel Bandol pun menjadi tempat perjumpaan umat dari berbagai wilayah yang dipersatukan oleh iman, doa, dan devosi kepada Bunda Maria.

 

Ribuan Umat dari Berbagai Daerah Bersatu dalam Doa

 Umat yang menghadiri perayaan tersebut datang dari berbagai kabupaten dan kota di Kalimantan Barat, yakni Kota Pontianak, Kabupaten Sintang, Kabupaten Sekadau, Kabupaten Sanggau, Kabupaten Ketapang, Kabupaten Landak, Kabupaten Bengkayang, Kabupaten Sambas, Kota Singkawang, Kabupaten Mempawah, dan Kabupaten Kubu Raya.

 Perjumpaan lintas daerah ini memperlihatkan bahwa kegiatan ziarah tidak hanya menjadi kesempatan untuk berdoa, tetapi juga sarana mempererat persaudaraan di antara umat Katolik.

 Di tengah kesibukan dan tantangan kehidupan sehari-hari, ziarah menjadi kesempatan bagi umat untuk mengambil waktu sejenak, mendekatkan diri kepada Tuhan, serta memperbarui komitmen dalam menjalani kehidupan sebagai pengikut Yesus Kristus.

 Kebersamaan yang terbangun dalam doa dan perayaan Ekaristi juga menjadi pengingat bahwa Gereja merupakan persekutuan umat beriman yang dipersatukan dalam kasih, meskipun berasal dari latar belakang dan wilayah yang berbeda.

 

Homili Mengajak Umat Mengasihi Allah dan Sesama

 Dalam homilinya, Pastor menegaskan pentingnya menjadikan kasih kepada Allah dan sesama sebagai dasar kehidupan orang Kristiani. Umat diajak untuk mencintai Tuhan Allah dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi, dan segenap kekuatan, serta mengasihi sesama manusia seperti mengasihi diri sendiri.

 Pesan tersebut mengingatkan umat bahwa iman tidak cukup hanya diungkapkan melalui doa, kehadiran dalam perayaan Ekaristi, atau kegiatan devosional. Iman harus diwujudkan secara nyata melalui sikap, perkataan, dan tindakan dalam kehidupan sehari-hari.

 Kasih kepada Allah hendaknya tercermin dalam kepedulian terhadap sesama, kesediaan untuk menolong mereka yang membutuhkan, kemampuan untuk saling mengampuni, serta kerendahan hati dalam membangun hubungan yang damai dengan orang lain.

 Pastor juga mengingatkan pentingnya Kitab Suci dalam kehidupan setiap umat Katolik. Setiap pribadi diharapkan memiliki Kitab Suci agar dapat membaca, merenungkan, memahami, dan melaksanakan Sabda Tuhan secara sungguh-sungguh.

 Sabda Tuhan bukan sekadar bacaan rohani, melainkan pedoman hidup yang menuntun umat dalam mengambil keputusan, menghadapi persoalan, dan membangun relasi yang baik dengan Allah maupun sesama manusia.

 Dengan membiasakan diri membaca dan merenungkan Kitab Suci, umat diharapkan semakin mengenal kehendak Allah dan memiliki kekuatan untuk menjalankan ajaran-Nya dalam berbagai situasi kehidupan.

 Lebih lanjut, umat diajak untuk menjadikan kasih sebagai tindakan nyata. Saling berbagi, menolong tanpa membeda-bedakan, mengampuni dengan tulus, dan menghadirkan kedamaian merupakan bagian dari panggilan setiap orang Kristiani.

 Sebagai pengikut Yesus Kristus, umat tidak hanya dipanggil untuk menerima kasih Allah, tetapi juga diutus untuk membawa kasih itu kepada keluarga, lingkungan masyarakat, dan siapa pun yang dijumpai.

 

Meneladani Bunda Maria dalam Ketaatan kepada Allah

 Dalam semangat Bulan Rosario, umat juga diajak untuk meneladani Santa Perawan Maria, yang dengan rendah hati menerima dan mengikuti kehendak Tuhan.

 Bunda Maria menjadi teladan iman, ketaatan, kesetiaan, dan penyerahan diri kepada Allah. Sikapnya mengajarkan bahwa mengikuti kehendak Tuhan membutuhkan kepercayaan, keberanian, serta kesediaan untuk menyerahkan seluruh perjalanan hidup ke dalam penyelenggaraan-Nya.

 Melalui doa Rosario, umat diajak untuk merenungkan perjalanan hidup Yesus Kristus bersama Bunda Maria. Doa ini diharapkan tidak berhenti sebagai rutinitas devosional, tetapi mendorong umat semakin mengenal Kristus dan meneladani kasih-Nya.

 Dengan meneladani Bunda Maria, umat diharapkan mampu menghadapi tantangan kehidupan dengan iman yang teguh, hati yang terbuka terhadap kehendak Allah, serta semangat untuk melayani sesama dengan penuh kasih.

 Penutupan ziarah Bulan Rosario dengan demikian menjadi kesempatan untuk memperbarui komitmen iman, bukan sekadar menandai berakhirnya rangkaian kegiatan ziarah.

 

Panitia Ajak Umat Merawat Pusat Kerohanian Karmel Bandol

 Panitia dan pengelola Pusat Kerohanian Karmel Bandol menyampaikan ajakan kepada umat Katolik untuk terus mengikuti perayaan Ekaristi dan berbagai kegiatan kerohanian yang diselenggarakan di tempat tersebut.

Umat juga diharapkan menjadikan Pusat Kerohanian Karmel Bandol sebagai salah satu tempat untuk memperdalam iman, membangun keheningan batin, berdoa, dan mempererat persaudaraan dalam Gereja.

 Selain itu, panitia dan pengelola mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan serta kelestarian lingkungan selama berkunjung. Setiap umat diharapkan memiliki kesadaran untuk membuang sampah pada tempatnya, menjaga fasilitas yang tersedia, dan tidak melakukan tindakan yang dapat merusak lingkungan sekitar.

 Kepedulian terhadap kebersihan dan lingkungan merupakan bentuk tanggung jawab bersama. Tempat kerohanian yang terawat akan memberikan kenyamanan bagi umat yang datang untuk berdoa, mengikuti kegiatan rohani, maupun melakukan ziarah pada kesempatan berikutnya.

 Ajakan tersebut sekaligus menegaskan bahwa kehidupan iman tidak dapat dipisahkan dari tanggung jawab untuk merawat alam dan menjaga tempat-tempat yang mendukung pertumbuhan rohani umat.

 

Menutup Ziarah, Membuka Langkah Baru dalam Iman

 Misa Penutupan Ziarah Gua Maria Shanti Buana dalam rangka Bulan Rosario di Pusat Kerohanian Karmel Bandol menjadi momentum untuk memperkuat iman, mempererat persaudaraan, dan memperbarui semangat pelayanan umat Katolik.

 Kehadiran sekitar 2.000 umat dari berbagai daerah menunjukkan kuatnya kerinduan umat untuk berkumpul dalam doa dan merayakan iman bersama. Namun, makna terdalam dari ziarah tidak hanya terletak pada perjalanan menuju tempat suci, melainkan juga pada perubahan hati dan kesediaan untuk menjalankan kehendak Tuhan setelah kembali ke kehidupan sehari-hari.

 Umat diharapkan membawa pulang semangat doa, ketekunan membaca Kitab Suci, kesediaan mengampuni, dan keberanian untuk mewujudkan kasih dalam tindakan nyata.

 Sebab, ziarah sejati tidak berakhir ketika seseorang meninggalkan tempat suci. Ziarah sejati terus berlangsung ketika iman diwujudkan dalam keluarga, kasih dihadirkan di tengah masyarakat, dan kepedulian diberikan kepada mereka yang membutuhkan.

 Dari Bandol, umat diajak membawa pulang lebih dari sekadar kenangan sebuah perayaan: membawa hati yang semakin dekat dengan Tuhan, tangan yang siap menolong sesama, dan semangat untuk menjadi pembawa damai di mana pun berada.

 “Berjalan bersama Bunda Maria, semakin dekat dengan Yesus, dan mewujudkan kasih Allah dalam kehidupan sehari-hari.”

Pilihan Lain

Berita Terkait

Lihat Semua