Langsung ke konten
Pendidikan

MENYEMAI IMAN, MENUMBUHKAN HARAPAN: TUJUH ANAK BINAAN KATOLIK LKA SUNGAI RAYA IKUTI PEMBINAAN ROHANI DAN PERINGATI SEMANGAT SUMPAH PEMUDA

Diperbarui
Bimbingan & Penyuluhan Penyuluh Agama Katolik BIMAS Katolik Kementerian Agama Kota Pontianak dan Kabupaten Kubu Raya di Kapel Katolik Santa Khatarina Siena LKA Sungai Raya. Rabu, 28 Oktober 2026.
Bimbingan & Penyuluhan Penyuluh Agama Katolik BIMAS Katolik Kementerian Agama Kota Pontianak dan Kabupaten Kubu Raya di Kapel Katolik Santa Khatarina Siena LKA Sungai Raya. Rabu, 28 Oktober 2026.

Sungai Raya, Kalimantan Barat — Pembinaan iman menjadi salah satu jalan penting untuk menumbuhkan harapan, membentuk karakter, dan mengarahkan generasi muda menuju kehidupan yang lebih baik. Semangat inilah yang mewarnai kegiatan bimbingan dan penyuluhan Agama Katolik bagi Warga Binaan Khusus Anak di Kapel Katolik Santa Khatarina Siena, Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LKA) Sungai Raya, Kalimantan Barat, pada Rabu, 28 Oktober 2026.

Kegiatan tersebut dilaksanakan melalui Doa Rosario, ibadat rutin yang disertai renungan, penyuluhan kelompok, serta penyuluhan pribadi. Sebanyak tujuh dari delapan anak binaan beragama Katolik hadir dan mengikuti kegiatan pembinaan rohani tersebut.

Pelaksanaan kegiatan ini menjadi wujud nyata pelayanan pastoral Gereja melalui Penyuluh Agama Katolik dalam mendampingi anak-anak binaan agar semakin mengenal kasih Tuhan, memperkuat iman, dan membangun sikap hidup yang lebih positif selama menjalani pembinaan.

Yacobus Juliannelis: Kita Diutus Kristus untuk Membawa Kabar Sukacita

Ibadat dipimpin oleh Yacobus Juliannelis, S.T., M.Sos., Penyuluh Agama Katolik Kementerian Agama Kota Pontianak. Dalam renungannya, ia mengajak anak-anak binaan untuk memahami bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri dan menjadi pembawa kabar sukacita bagi sesama.

Pesan tersebut berlandaskan panggilan Kristiani untuk menghadirkan kasih, pengharapan, kedamaian, dan kebaikan di tengah kehidupan bermasyarakat.

Menurutnya, menjadi pengikut Kristus tidak cukup hanya ditunjukkan melalui doa dan kehadiran dalam ibadat, tetapi juga harus diwujudkan melalui perilaku sehari-hari. Kesediaan untuk menghormati sesama, menaati aturan, mengendalikan emosi, mengakui kesalahan, dan memperbaiki diri merupakan bagian dari perjalanan iman yang nyata.

Momentum Rabu, 28 Oktober 2026, juga memiliki makna khusus karena Gereja Katolik merayakan Pesta Santo Simon Zelot dan Santo Yudas Tadeus, Rasul. Pada tanggal yang sama, bangsa Indonesia memperingati Hari Sumpah Pemuda ke-98.

Kedua momentum tersebut menjadi kesempatan untuk merefleksikan panggilan hidup sebagai umat beriman sekaligus warga negara yang memiliki tanggung jawab terhadap masa depan bangsa.

Melalui teladan para rasul, anak-anak binaan diajak menyadari bahwa setiap orang dapat mengambil bagian dalam menghadirkan kebaikan, meskipun memiliki pengalaman hidup yang berbeda-beda.

Semangat Sumpah Pemuda pun mengingatkan bahwa masa depan Indonesia membutuhkan generasi muda yang memiliki persatuan, kedisiplinan, tanggung jawab, dan kemauan untuk terus berkembang.

“Kita diutus Kristus ke dunia untuk membawa kabar sukacita bagi semua orang. Karena itu, jangan pernah kehilangan harapan untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Masa lalu bukan alasan untuk berhenti melangkah, melainkan pelajaran untuk membangun masa depan yang lebih bermakna.”

Pesan tersebut menegaskan bahwa pembinaan rohani tidak hanya bertujuan memperdalam pengetahuan agama, tetapi juga menumbuhkan kesadaran untuk menerapkan nilai-nilai Kristiani dalam kehidupan nyata.

F.X. Welly: Perubahan Positif Dimulai dari Ketaatan dan Pengendalian Diri

Dalam rangkaian ibadat, F.X. Welly, S.Ag., S.H., Penyuluh Agama Katolik Bimas Katolik Kementerian Agama Kabupaten Kubu Raya, turut mengambil bagian sebagai pemazmur dan membawakan Bait Pengantar Injil.

Dalam pesannya, ia menekankan pentingnya memuji dan memuliakan Tuhan melalui perubahan perilaku yang positif. Menurutnya, kedekatan dengan Yesus Kristus hendaknya terlihat melalui kesungguhan mengikuti seluruh proses pembinaan di LKA dengan baik.

Anak-anak binaan diajak untuk menjauhi pertengkaran, menghindari tindakan yang merugikan diri sendiri maupun orang lain, serta tidak menciptakan persoalan baru yang dapat menghambat proses pembinaan.

Ia mengingatkan bahwa kemampuan mengendalikan diri merupakan bagian penting dari kedewasaan. Ketika menghadapi perbedaan pendapat, kemarahan, atau persoalan dengan teman, setiap anak perlu belajar menyelesaikan masalah secara damai dan bertanggung jawab.

Ketaatan terhadap aturan bukan semata-mata kewajiban selama berada di lingkungan pembinaan, melainkan latihan untuk membangun kebiasaan baik yang dapat diterapkan ketika kembali ke tengah keluarga dan masyarakat.

Dengan demikian, doa dan pujian kepada Tuhan diharapkan menghasilkan buah nyata berupa sikap yang lebih sabar, perilaku yang lebih tertib, serta kemauan untuk memperbaiki kesalahan.

Susana: Doa Rosario dan Firman Tuhan Menjadi Pelita Kehidupan

Sementara itu, Susana, S.Ag., Penyuluh Agama Katolik Bimas Katolik Kementerian Agama, menegaskan pentingnya Doa Rosario dan pendalaman Firman Tuhan sebagai sarana untuk memperkuat iman sekaligus menjadi pedoman dalam menjalani kehidupan.

Doa Rosario mengajak umat untuk merenungkan perjalanan hidup Yesus Kristus bersama Bunda Maria. Melalui doa yang dilakukan dengan tekun, umat diharapkan semakin mampu menumbuhkan kesabaran, ketulusan, pengampunan, dan kepercayaan kepada penyelenggaraan Tuhan.

Susana juga mengajak anak-anak binaan untuk menjadikan Firman Tuhan sebagai pelita yang menerangi langkah mereka, terutama ketika menghadapi kesulitan, pergumulan batin, dan tantangan dalam proses pembinaan.

Ia mendorong mereka untuk terus belajar mengambil bagian dalam kehidupan menggereja, baik sebagai lektor yang membacakan Sabda Tuhan, dirigen yang memimpin nyanyian liturgi, maupun umat yang berpartisipasi secara aktif dalam ibadat.

Setiap bentuk pelayanan tersebut memiliki nilai pendidikan iman. Melalui pelayanan, anak-anak belajar bertanggung jawab, menghargai orang lain, bekerja sama, serta menumbuhkan rasa percaya diri.

Lebih dari itu, keterlibatan dalam kegiatan rohani diharapkan membantu mereka membangun kebiasaan hidup yang berlandaskan kasih Kristus.

“Jadikan doa sebagai kekuatan, Firman Tuhan sebagai pedoman, dan kasih Kristus sebagai dasar dalam memperlakukan sesama. Teruslah belajar melayani dengan sukacita karena setiap orang memiliki kesempatan untuk bertumbuh dan melakukan kebaikan.”

Doa Rosario dan Penyuluhan Menjadi Ruang Pembentukan Karakter

Selain ibadat dan renungan, kegiatan bimbingan dan penyuluhan juga dilaksanakan melalui pendekatan kelompok dan pribadi.

Penyuluhan kelompok menjadi ruang untuk menyampaikan nilai-nilai keagamaan, membangun kebersamaan, serta mengajak anak-anak binaan merefleksikan perilaku dan tanggung jawab mereka. Melalui pendekatan ini, peserta didorong untuk memahami pentingnya kedisiplinan, sikap saling menghormati, pengendalian diri, dan kepedulian terhadap sesama.

Adapun penyuluhan pribadi memberikan kesempatan untuk melakukan pendampingan yang lebih dekat sesuai dengan kebutuhan masing-masing anak. Pendekatan tersebut penting agar setiap anak memperoleh ruang untuk menyampaikan pergumulan, merefleksikan pengalaman, dan menemukan dorongan untuk memperbaiki diri.

Pelayanan bimbingan dan penyuluhan Agama Katolik di lingkungan LKA diharapkan menjadi bagian dari proses pembinaan yang menyeluruh, dengan memperhatikan pertumbuhan spiritual, moral, emosional, dan sosial anak-anak binaan.

Kehadiran para penyuluh agama juga menjadi bentuk perhatian bahwa anak-anak yang sedang menjalani pembinaan tetap memiliki martabat, potensi, dan kesempatan untuk menata kembali masa depannya.

Pembinaan yang berkelanjutan diharapkan dapat membantu mereka menumbuhkan keyakinan bahwa perubahan merupakan sesuatu yang mungkin dicapai melalui kemauan, kedisiplinan, pendampingan, dan pertolongan Tuhan.

Santo Simon dan Santo Yudas Tadeus: Teladan Kesetiaan dalam Mengikuti Kristus

Perayaan Pesta Santo Simon Zelot dan Santo Yudas Tadeus, Rasul, memberikan landasan rohani yang relevan bagi kegiatan tersebut.

Dalam bacaan Injil Lukas 6:12–19, Yesus terlebih dahulu berdoa sebelum memilih dua belas orang untuk menjadi rasul-Nya. Peristiwa ini memperlihatkan pentingnya doa, kebijaksanaan, dan kesediaan untuk menjalankan panggilan.

Sementara itu, bacaan pertama dari Efesus 2:19–22 mengingatkan bahwa umat beriman merupakan bagian dari keluarga Allah yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru.

Pesan ini mengajak anak-anak binaan untuk menyadari bahwa kehidupan perlu dibangun di atas fondasi yang kuat, yakni iman, kejujuran, tanggung jawab, dan kasih kepada sesama.

Teladan para rasul juga mengingatkan bahwa mengikuti Kristus berarti bersedia belajar, bertumbuh, dan mengambil bagian dalam karya kebaikan. Setiap orang dipanggil untuk memberikan kesaksian melalui tindakan nyata, bukan hanya melalui perkataan.

Dalam konteks pembinaan anak, nilai-nilai tersebut dapat diwujudkan dengan menaati peraturan, menghargai pendamping, menjaga persahabatan, menghindari kekerasan, serta mempersiapkan diri untuk kembali berperan secara positif dalam keluarga dan masyarakat.

Semangat Sumpah Pemuda: Kesempatan Kedua untuk Masa Depan Indonesia

Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 pada 28 Oktober 2026 menjadi momentum untuk meneguhkan semangat persatuan dan tanggung jawab generasi muda terhadap bangsa.

Semangat Sumpah Pemuda tidak hanya berbicara tentang sejarah perjuangan bangsa, tetapi juga tentang kesediaan setiap generasi untuk menjaga persatuan, menghormati perbedaan, dan berkontribusi bagi masa depan Indonesia.

Bagi anak-anak binaan, nilai tersebut dapat dimulai dari tindakan sederhana: membangun hubungan yang damai dengan teman, menaati aturan, menghargai perbedaan, mengikuti pembinaan dengan sungguh-sungguh, dan berani meninggalkan kebiasaan yang merugikan.

Masa depan bangsa membutuhkan generasi muda yang tidak menyerah pada kesulitan, mampu belajar dari pengalaman, dan bersedia memperbaiki diri.

Karena itu, pembinaan rohani di Kapel Katolik Santa Khatarina Siena diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan ibadat semata, tetapi menjadi sumber inspirasi bagi anak-anak binaan untuk membangun kehidupan yang lebih tertib, bermartabat, dan penuh harapan.

Penutup: Masa Lalu Bukan Akhir Perjalanan, Harapan Selalu Terbuka

Kegiatan bimbingan dan penyuluhan Agama Katolik di LKA Sungai Raya menegaskan bahwa pelayanan keagamaan memiliki peran penting dalam mendampingi anak-anak binaan menemukan kembali arah hidup, memperkuat iman, dan menumbuhkan semangat untuk berubah.

Melalui Doa Rosario, ibadat rutin, renungan, serta penyuluhan kelompok dan pribadi, anak-anak binaan diajak memahami bahwa setiap langkah menuju kebaikan memiliki arti. Perubahan memang membutuhkan waktu, kesabaran, dan ketekunan, tetapi tidak ada alasan untuk berhenti berusaha.

Masa lalu boleh menjadi pelajaran, tetapi bukan penentu seluruh masa depan. Dengan iman kepada Kristus, kemauan untuk memperbaiki diri, serta dukungan dari keluarga, pembina, dan masyarakat, setiap anak memiliki kesempatan untuk bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik.

Sejalan dengan pesan Injil dan semangat Sumpah Pemuda, anak-anak binaan diharapkan mampu membawa nilai-nilai kasih, kedamaian, persatuan, dan tanggung jawab ke dalam kehidupan sehari-hari.

Sebab, perubahan besar sering kali dimulai dari keputusan sederhana: memilih untuk tidak berkelahi, berani mengakui kesalahan, bersedia mengampuni, menaati aturan, dan melakukan kebaikan meskipun tidak selalu mudah.

Ketika iman menjadi pelita, kasih menjadi kekuatan, dan harapan tetap menyala, masa depan yang lebih baik bukan sekadar impian, melainkan tujuan yang dapat diperjuangkan bersama.

Pilihan Lain

Berita Terkait

Lihat Semua