PONTIANAK — Suasana khidmat dan penuh rasa syukur menyelimuti Gereja Oikumene RUTAN Kelas II A Sungai Raya Dalam, Pontianak, pada Selasa (24/3/2026). Sebanyak 26 warga binaan pemasyarakatan yang beragama Katolik berkumpul bersama untuk mengikuti kegiatan Bimbingan dan Penyuluhan Agama yang berlangsung mulai pukul 09.00 hingga 11.00 WIB.
Kegiatan pembinaan kerohanian ini dipimpin langsung oleh Yacobus Juliannelis, S.T., M.Sos., Penyuluh Agama Katolik dari Bimbingan Masyarakat (BIMAS) Katolik Kantor Kementerian Agama Kota Pontianak. Pembinaan ini hadir sebagai wujud nyata perhatian negara dan gereja dalam merawat nurani serta memberikan pendampingan spiritual bagi warga binaan.
Saling Memperkuat dalam Karunia dan Kesatuan Iman
Sesi bimbingan diawali dengan permenungan atas Surat Rasul Paulus kepada Umat di Efesus (Efesus 4:7-16). Dalam pemaparannya, Yacobus menekankan bahwa setiap pribadi tanpa terhalang oleh ruang, waktu, maupun status sosial diberi aneka karunia oleh Kristus.
"Karunia yang dialami setiap orang tidak bertujuan untuk memisahkan, melainkan untuk saling memperlengkapi dan membangun Tubuh Kristus. Di tempat ini pun, panjenengan dan kita semua dipanggil untuk saling menguatkan menuju kedewasaan iman dan kesatuan dalam kasih," ujar Yacobus di hadapan para peserta.
Semangat kebersamaan tersebut semakin ditegaskan melalui lantunan Mazmur Tanggapan (Mazmur 122:1-2.3-4a.4b-5) dengan refren yang bergema hangat di dalam gereja: "Aku bersukacita, ketika orang berkata kepadaku, 'Mari kita pergi ke rumah Tuhan.'" Suasana doa bersama ini menjadi penawar rindu akan kedamaian dan persekutuan umat.
Peluang Bertumbuh dalam Kesabaran Allah
Memasuki permenungan Injil, Bait Pengantar dari Kitab Yehezkiel (Yehezkiel 33:11) menggemakan pesan belas kasih Allah: "Aku tidak berkenan kepada kematian orang fasik, melainkan kepada pertobatannya supaya ia hidup."
Pesan firman tersebut bermuara pada perikop Bacaan Injil Lukas 13:1-9 mengenai perumpamaan pohon ara yang belum berbuah. Yacobus menggarisbawahi bahwa Allah adalah Bapa yang maharahim dan penuh kesabaran. Pohon ara yang belum berbuah tidak langsung ditebang, melainkan diberi waktu, dirawat, dan dipupuk kembali agar kelak menghasilkan buah yang baik.
"Tuhan tidak pernah tergesa-gesa menghukum. Selalu ada waktu dan kesempatan kedua yang Dia sediakan bagi siapa saja yang mau berbalik dan memperbarui diri. Masa-masa pembinaan di sini adalah waktu rahmat, kesempatan emas untuk membenahi akar kehidupan dan mulai menghasilkan buah-buah kebaikan," tutur Yacobus meneguhkan para warga binaan.
Para peserta mengikuti seluruh rangkaian acara dengan antusias dan penuh kekhusyukan hingga berakhir pada pukul 11.00 WIB. Kegiatan ini diharapkan dapat terus memperkokoh mental dan spiritual warga binaan sebagai bekal positif saat kembali ke tengah masyarakat kelak.
Pesan Penutup & Renungan
"Dinding tembok dan jeruji besi mungkin membatasi langkah kaki, tetapi tidak akan pernah mampu membelenggu rahmat dan belas kasih Allah. Hidup kita bukanlah tentang sejauh mana kita pernah terjatuh, melainkan tentang keberanian untuk bangkit, berbuah, dan menjadi pribadi yang baru di dalam kasih-Nya."