KUBU RAYA, KALIMANTAN BARAT — Pembentukan karakter mahasiswa Katolik tidak cukup hanya melalui penguasaan ilmu pengetahuan, tetapi juga harus disertai pendalaman iman, penguatan moralitas, pembiasaan etika, penghargaan terhadap nilai estetika, serta kedisiplinan dalam kehidupan sehari-hari. Semangat inilah yang menjadi pokok perhatian dalam kegiatan Bimbingan dan Penyuluhan Orang Muda Katolik (OMK) bagi mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak.
Kegiatan tersebut diikuti oleh 42 mahasiswa Katolik PKK 1 Semester I dan dilaksanakan di ruang pertemuan lantai 4 Kampus STAKAT Negeri Pontianak, Jalan Parit Haji Muksin II, KM 2, Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, pada pukul 11.00–12.35 WIB.
Bertindak sebagai narasumber, Yacobus Juliannelis, S.T., M.Sos., Penyuluh Agama Katolik pada Bimas Katolik Kementerian Agama Kota Pontianak, menyampaikan materi mengenai Moralitas, Estetika, Etika, dan Disiplin dalam Ilmu Sosial Dasar sebagai landasan pembentukan mahasiswa Katolik yang beriman, berintegritas, bertanggung jawab, serta memiliki kepedulian terhadap bangsa dan negara.
Iman Katolik dan Nasionalisme sebagai Landasan Karakter Mahasiswa
Dalam penyuluhan tersebut, mahasiswa diajak memahami bahwa menjadi mahasiswa Katolik bukan sekadar menyandang identitas agama, melainkan juga mewujudkan iman melalui sikap, perkataan, keputusan, dan tindakan nyata.
Semangat “100 persen Katolik, 100 persen Indonesia” menjadi pesan penting dalam membangun pribadi yang teguh dalam iman sekaligus memiliki kecintaan terhadap tanah air. Identitas sebagai umat Katolik hendaknya berjalan seiring dengan tanggung jawab sebagai warga negara Indonesia yang menghargai keberagaman, menjunjung persatuan, serta berkontribusi bagi kehidupan masyarakat.
Moralitas menjadi dasar untuk membedakan tindakan yang baik dan tidak baik. Etika membimbing mahasiswa dalam mengambil keputusan dan membangun hubungan yang saling menghormati. Estetika menumbuhkan kepekaan terhadap keindahan, keteraturan, dan keharmonisan, sedangkan disiplin melatih konsistensi dalam menjalankan tanggung jawab akademik, kehidupan pribadi, dan pelayanan kepada sesama.
Keempat nilai tersebut perlu diintegrasikan dalam kehidupan mahasiswa agar ilmu pengetahuan tidak berhenti pada penguasaan teori, tetapi berkembang menjadi kebijaksanaan dan tindakan yang membawa manfaat.
Mengembangkan Semangat 5M: Membaca, Mendengar, Melihat, Menulis, dan Menceritakan
Mahasiswa juga diajak membangun kebiasaan belajar yang aktif, adaptif, dialogis, dan kolaboratif melalui semangat 5M: Membaca, Mendengar, Melihat, Menulis, dan Menceritakan.
Membaca memperluas wawasan dan memperdalam pemahaman. Mendengar melatih kerendahan hati untuk menerima gagasan orang lain. Melihat membantu mahasiswa mengamati realitas secara kritis. Menulis mengembangkan kemampuan menyusun pemikiran secara sistematis, sedangkan menceritakan melatih keterampilan menyampaikan pengetahuan dan pengalaman secara jelas serta bertanggung jawab.
Melalui kebiasaan 5M, mahasiswa diharapkan tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga mampu mengolah pengetahuan, berdialog secara terbuka, berdiskusi secara sehat, serta menghasilkan gagasan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Semangat ini menjadi semakin penting di tengah perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang memungkinkan pengetahuan disebarluaskan dengan cepat. Mahasiswa perlu memiliki kemampuan memilah informasi, memeriksa kebenaran sumber, menghindari penyebaran informasi yang menyesatkan, serta menggunakan teknologi secara bijaksana.
Berani Berkarya dan Menghadirkan Kebaikan melalui Media Komunikasi Sosial
Dalam menghadapi tantangan zaman, mahasiswa Katolik didorong untuk mengembangkan kreativitas dan menghasilkan karya yang bermanfaat, baik dalam bentuk tulisan, karya cetak, maupun produk elektronik dan digital.
Media internet, khususnya media komunikasi sosial, dapat dimanfaatkan sebagai ruang untuk menyampaikan gagasan yang membangun, menyebarkan nilai-nilai kemanusiaan, membagikan pengalaman iman, mengembangkan literasi, serta menginspirasi orang lain untuk melakukan kebaikan.
Mahasiswa diharapkan mampu menghasilkan konten yang informatif, edukatif, inspiratif, dan bertanggung jawab. Setiap tulisan, foto, video, maupun bentuk komunikasi digital hendaknya mencerminkan kejujuran, penghormatan terhadap martabat manusia, kepedulian terhadap sesama, serta komitmen terhadap kebenaran.
Dengan demikian, teknologi bukan sekadar sarana hiburan, melainkan juga dapat menjadi media pembelajaran, pewartaan nilai-nilai kebaikan, pengembangan potensi diri, dan pelayanan kepada masyarakat.
Belajar dan Berdialog dalam Semangat Cinta Kasih Kristus
Pembentukan mahasiswa Katolik yang dewasa dalam iman membutuhkan kemauan untuk terus belajar, berdialog, berdiskusi, berlatih, dan berjuang dalam cinta kasih Kristus.
Mahasiswa perlu membangun keberanian untuk menyampaikan pendapat tanpa merendahkan orang lain, menerima kritik tanpa kehilangan semangat, serta menyelesaikan perbedaan melalui dialog yang terbuka dan penuh penghormatan.
Dalam kehidupan kampus, semangat tersebut dapat diwujudkan melalui kedisiplinan mengikuti perkuliahan, kejujuran akademik, kerja sama dalam kelompok, kepedulian terhadap teman, serta kesediaan terlibat dalam kegiatan sosial dan pelayanan.
Landasan spiritualnya adalah panggilan untuk mengasihi Allah dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi, dan segenap kekuatan, serta mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri. Nilai ini mengingatkan mahasiswa bahwa kecerdasan harus berjalan bersama hati nurani, prestasi perlu disertai kerendahan hati, dan keberhasilan seharusnya membawa manfaat bagi orang lain.
Seluruh proses pembelajaran dan pengembangan diri tersebut diharapkan senantiasa berlangsung dalam berkat Bapa di Surga, cinta kasih Yesus Kristus, dan tuntunan Roh Kudus.
Menjadi Generasi Katolik yang Cerdas, Beriman, dan Membawa Perubahan
Melalui kegiatan bimbingan dan penyuluhan ini, mahasiswa diharapkan semakin menyadari pentingnya menyatukan iman, ilmu pengetahuan, karakter, kedisiplinan, dan tanggung jawab sosial.
Mahasiswa Katolik bukan hanya dipersiapkan untuk meraih keberhasilan akademik, tetapi juga untuk menjadi pribadi yang mampu menjawab tantangan masyarakat melalui pemikiran kritis, komunikasi yang sehat, karya kreatif, dan tindakan nyata.
Kampus menjadi ruang untuk bertumbuh dalam pengetahuan dan kedewasaan, sementara kehidupan bermasyarakat menjadi kesempatan untuk mengamalkan nilai-nilai yang telah dipelajari. Karena itu, setiap mahasiswa dipanggil untuk menjadikan ilmu sebagai sarana pelayanan, teknologi sebagai alat penyebaran kebaikan, dan iman sebagai kekuatan untuk tetap setia pada kebenaran.
Pesan Penutup: Jadilah Terang, Bukan Sekadar Penonton Perubahan
Mahasiswa Katolik, masa depan tidak hanya membutuhkan orang-orang pintar, tetapi juga pribadi yang beriman, berkarakter, berani berkarya, dan setia memperjuangkan kebaikan.
Jangan berhenti menjadi mahasiswa yang hanya membaca buku, tetapi jadilah pribadi yang mampu memahami kehidupan. Jangan hanya mendengar nasihat, tetapi wujudkanlah dalam tindakan. Jangan sekadar melihat persoalan, tetapi beranilah mencari solusi. Jangan takut menulis gagasan, dan jangan ragu menceritakan pengalaman yang menginspirasi.
Bacalah untuk membuka pikiran, dengarkanlah untuk memperluas hati, lihatlah untuk memahami kenyataan, tulislah untuk meninggalkan gagasan, dan ceritakanlah untuk menyalakan harapan.
Jadilah mahasiswa yang unggul dalam ilmu, teguh dalam iman, santun dalam perkataan, disiplin dalam tindakan, bijaksana dalam menggunakan teknologi, dan tulus dalam melayani sesama.
Berimanlah dengan sungguh-sungguh, belajarlah tanpa henti, berdialoglah dengan rendah hati, berkaryalah dengan kreativitas, dan berjuanglah dalam cinta kasih Kristus.
Sebab, ukuran keberhasilan seorang mahasiswa Katolik bukan hanya seberapa tinggi prestasi yang diraih, melainkan juga seberapa besar kebaikan yang dihadirkan bagi keluarga, kampus, Gereja, masyarakat, bangsa, dan negara.
Dengan mengandalkan berkat Bapa di Surga, cinta kasih Kristus, dan tuntunan Roh Kudus, marilah melangkah bersama menjadi generasi muda Katolik yang membawa terang, merawat persaudaraan, menjunjung kebenaran, serta menghadirkan harapan bagi Indonesia.
Jadilah 100 persen Katolik, 100 persen Indonesia berakar kuat dalam iman, bertumbuh dalam ilmu, dan berbuah dalam pelayanan kasih.