SUNGAI RAYA, KUBU RAYA, KALIMANTAN BARAT — Pembinaan rohani merupakan salah satu jalan untuk menumbuhkan harapan, memperkuat iman, dan membangun kesadaran akan pentingnya perubahan hidup. Semangat inilah yang mewarnai kegiatan Bimbingan dan Penyuluhan Rohani bagi warga binaan Kristiani di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Sungai Raya, Jalan Adisucipto KM 5, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat.
Kegiatan yang berlangsung pada pukul 09.00–11.00 WIB, Senin, 26 Oktober 2026, menghadirkan para pembimbing rohani dari Gereja Katolik dan Kementerian Agama. Melalui doa Rosario bersama, Perayaan Ekaristi, penyuluhan rohani, konsultasi pribadi, dan makan bersama, kegiatan ini menjadi ruang perjumpaan yang meneguhkan iman, memulihkan semangat, serta mengajak warga binaan untuk terus memperbaiki diri.
Hadir dalam kegiatan tersebut Pastor Hedrik, CDD, dari Gereja Katolik Santo Agustinus, Paroki Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya; Yacobus Juliannelis, S.T., M.Sos., Penyuluh Agama Katolik pada Bimas Katolik Kementerian Agama Kota Pontianak; F.X. Welly, S.Ag., S.H., Penyuluh Agama Katolik pada Bimas Katolik Kementerian Agama Kabupaten Kubu Raya; Yosefina Serin, S.Si.; serta petugas Lapas, Rere Manurung, yang mendampingi pelaksanaan kegiatan.
Sabda Tuhan Mengajak Umat Menghidupi Kasih dan Belas Kasih
Dalam homilinya, Pastor Hedrik, CDD, mengajak umat untuk merenungkan Sabda Tuhan sesuai bacaan liturgi Gereja Katolik pada Senin, 26 Oktober 2026. Pesan utama yang ditekankan ialah panggilan untuk hidup dalam kasih Kristus, menjauhi kejahatan, dan menghormati martabat setiap manusia melalui tindakan kasih yang nyata.
Bacaan pertama dari Efesus 4:32–5:8 mengingatkan umat agar bersikap ramah, penuh kasih sayang, dan saling mengampuni sebagaimana Allah telah mengampuni manusia dalam Kristus. Rasul Paulus juga mengajak umat meninggalkan perkataan kotor, keserakahan, dan perbuatan yang bertentangan dengan kehendak Allah. Sebaliknya, setiap orang dipanggil untuk hidup sebagai anak-anak terang.
Pesan tersebut menegaskan bahwa pertobatan tidak berhenti pada penyesalan, tetapi perlu diwujudkan melalui perubahan sikap, perkataan, dan tindakan sehari-hari. Pengampunan, kejujuran, dan kepedulian terhadap sesama menjadi bagian penting dari perjalanan iman.
Mazmur tanggapan dari Mazmur 1:1–4, 6 menggambarkan orang benar seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buah pada waktunya dan daunnya tidak layu. Gambaran ini menjadi pengingat bahwa kehidupan yang berakar pada firman Tuhan akan memperoleh kekuatan untuk bertahan dalam kesulitan serta menghasilkan buah kebaikan, kesetiaan, keadilan, dan kasih.
Sementara itu, bait pengantar Injil dari Yohanes 17:17b mengajak umat untuk berpegang pada kebenaran Sabda Tuhan: “Sabda-Mu, ya Tuhan, adalah kebenaran; kuduskanlah kami dalam kebenaran.”
Puncak permenungan terdapat dalam Injil Lukas 13:10–17, yang mengisahkan Yesus menyembuhkan seorang perempuan yang telah delapan belas tahun menderita karena tubuhnya bungkuk. Ketika melihat perempuan itu, Yesus memanggil dan menyembuhkannya. Perempuan tersebut pun dapat berdiri tegak kembali dan memuliakan Allah.
Tindakan Yesus mendapat keberatan dari kepala rumah ibadat karena penyembuhan itu dilakukan pada hari Sabat. Namun, Yesus menegaskan bahwa perempuan tersebut layak dibebaskan dari penderitaannya. Kisah ini menunjukkan bahwa belas kasih harus diwujudkan dalam tindakan nyata dan bahwa aturan keagamaan tidak boleh dijadikan alasan untuk mengabaikan penderitaan manusia.
Dalam konteks kehidupan warga binaan, pesan Injil tersebut menjadi undangan untuk tidak menyerah pada masa lalu, melainkan membuka diri terhadap pertobatan, pemulihan, dan masa depan yang lebih baik. Setiap manusia tetap memiliki martabat yang harus dihormati serta kesempatan untuk bertumbuh dalam kebaikan.
Yacobus Juliannelis: Jadikan Pembinaan sebagai Jalan Perubahan Hidup
Dalam sesi penyuluhan, Yacobus Juliannelis, S.T., M.Sos., menekankan pentingnya keaktifan warga binaan Katolik secara khusus dan seluruh warga binaan Kristiani secara umum dalam mengikuti program pembinaan rohani yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama, gereja, dan organisasi keagamaan Kristiani.
Berdasarkan data yang disampaikan dalam kegiatan tersebut, terdapat 119 warga binaan beragama Katolik dan 74 warga binaan beragama Kristen Protestan, sehingga jumlah keseluruhannya mencapai 193 orang.
Yacobus mengajak para warga binaan untuk memanfaatkan kesempatan pembinaan sebagai bagian dari proses memperbaiki diri. Keikutsertaan dalam kegiatan rohani hendaknya tidak hanya dipandang sebagai rutinitas, tetapi sebagai kesempatan untuk memperdalam iman, membangun karakter, melatih pengendalian diri, dan menumbuhkan kepedulian terhadap sesama.
Ia juga menegaskan pentingnya mengikuti program-program pembinaan yang diselenggarakan oleh pihak Lapas, terutama kegiatan yang mendukung peningkatan kemampuan membaca serta keterampilan vokasional. Kedua bidang tersebut dinilai penting untuk memperluas wawasan, meningkatkan kemampuan diri, dan mempersiapkan warga binaan agar lebih mandiri ketika kembali ke tengah masyarakat.
Pembinaan rohani dan pengembangan keterampilan diharapkan berjalan beriringan. Iman memberikan landasan moral, sedangkan pengetahuan dan keterampilan menjadi bekal praktis untuk menjalani kehidupan yang produktif, bertanggung jawab, dan bermanfaat bagi keluarga serta lingkungan sosial.
Melalui pesan tersebut, Yacobus mengajak warga binaan menjadikan masa pembinaan sebagai waktu yang bermakna: memperbaiki hubungan dengan Tuhan, berdamai dengan diri sendiri, membangun kepedulian terhadap orang lain, dan mempersiapkan langkah baru setelah menyelesaikan masa pidana.
F.X. Welly: Tumbuhkan Bela Rasa dan Komitmen dalam Iman
Penyuluh Agama Katolik F.X. Welly, S.Ag., S.H., mengangkat pentingnya sikap berbela rasa terhadap sesama, khususnya bagi warga binaan yang sedang mengalami kedukaan karena kehilangan pasangan, orang tua, maupun anggota keluarga lainnya.
Menurut pesan yang disampaikannya, pengalaman kehilangan dan keterpisahan dari keluarga dapat menjadi beban emosional yang berat. Karena itu, sikap saling mendengarkan, memberikan penguatan, dan menunjukkan kepedulian perlu terus ditumbuhkan dalam komunitas warga binaan.
Bela rasa tidak harus diwujudkan melalui tindakan besar. Kesediaan menemani teman yang sedang berduka, mendengarkan tanpa menghakimi, mendoakan, dan memberikan dukungan moral merupakan bentuk kasih yang dapat dilakukan setiap hari.
F.X. Welly juga menekankan pentingnya keaktifan dan komitmen dalam kehidupan iman, baik bagi warga binaan yang telah dibaptis maupun mereka yang sedang mempersiapkan diri untuk menerima Sakramen Baptis. Keterlibatan dalam pembinaan hendaknya disertai kesungguhan, keterbukaan hati, dan kesediaan menjalani proses pertumbuhan rohani.
Dengan demikian, kehidupan menggereja di lingkungan Lapas diharapkan menjadi ruang persaudaraan yang membantu setiap orang bertumbuh dalam iman, saling menguatkan, dan belajar membangun kehidupan yang lebih baik.
Yosefina Serin: Pelayanan Liturgi Membutuhkan Ketekunan dan Ketulusan
Dalam kesempatan yang sama, Penyuluh Agama Katolik Yosefina Serin, S.Si., memberikan perhatian pada pembinaan para petugas ibadat. Ia mengajak mereka untuk terus berlatih, meningkatkan kemampuan, dan menjalankan pelayanan dengan ikhlas.
Petugas ibadat memiliki peran penting dalam mendukung keteraturan dan kekhidmatan perayaan liturgi. Oleh sebab itu, persiapan yang baik, kedisiplinan, kesediaan belajar, dan kerja sama menjadi unsur penting dalam pelayanan.
Pelayanan gerejawi bukan semata-mata tentang kemampuan menjalankan tugas, melainkan juga tentang ketulusan hati. Setiap pelayanan, sekecil apa pun, dapat menjadi wujud syukur kepada Tuhan dan bentuk kepedulian terhadap komunitas.
Melalui latihan yang berkesinambungan dan semangat saling mendukung, para petugas ibadat diharapkan semakin percaya diri dalam menjalankan tanggung jawab serta mampu membantu warga binaan mengikuti kegiatan rohani dengan baik.
Rere Manurung: Pembinaan Lapas Menyiapkan Kemandirian Warga Binaan
Dari sisi pelaksanaan program pemasyarakatan, petugas Lapas Rere Manurung menekankan pentingnya partisipasi aktif warga binaan dalam berbagai program yang telah disiapkan oleh Lapas.
Program pembinaan tidak hanya bertujuan mengisi waktu selama menjalani masa pidana, tetapi juga memberikan kesempatan untuk membangun kebiasaan positif, memperluas pengetahuan, dan mengembangkan keterampilan yang berguna bagi kehidupan setelah bebas.
Kegiatan peningkatan kemampuan membaca dan pelatihan vokasional menjadi bagian penting dalam mempersiapkan kemandirian warga binaan. Melalui pembelajaran dan latihan yang dilakukan secara konsisten, warga binaan diharapkan mampu mengenali potensi diri serta mengembangkan kemampuan yang dapat dimanfaatkan untuk bekerja atau menjalankan kegiatan produktif.
Pesan tersebut memperlihatkan pentingnya kerja sama antara petugas Lapas, pembimbing rohani, dan warga binaan. Keberhasilan pembinaan memerlukan keterlibatan semua pihak, kedisiplinan, serta komitmen untuk terus belajar dan berubah.
Ketua Umat Gereja Oikumene: Hadir dan Terlibat dalam Pembinaan Rohani
Ketua Umat Gereja Oikumene Lapas Kelas IIA Sungai Raya turut mengingatkan warga binaan agar mengikuti setiap kegiatan pembinaan kerohanian yang telah dijadwalkan oleh pengurus gereja.
Keaktifan dalam kegiatan rohani merupakan salah satu bentuk kesungguhan dalam membangun kehidupan iman. Doa bersama, perayaan ibadat, pendalaman Sabda Tuhan, dan kegiatan persaudaraan dapat menjadi sarana untuk meneguhkan harapan sekaligus memperkuat hubungan antarsesama.
Keterlibatan secara teratur juga membantu membangun disiplin, rasa tanggung jawab, dan kepedulian terhadap komunitas. Karena itu, warga binaan diajak untuk mengikuti kegiatan dengan semangat, menghargai jadwal yang telah disusun, serta mendukung terciptanya suasana yang tertib dan penuh persaudaraan.
Komunitas iman di lingkungan Lapas diharapkan menjadi tempat setiap orang merasa diterima, didampingi, dan dikuatkan untuk menjalani proses perubahan hidup.
Doa, Konsultasi Pribadi, dan Makan Bersama Mempererat Persaudaraan
Rangkaian kegiatan bimbingan dan penyuluhan rohani dilaksanakan melalui beberapa bentuk pelayanan, yakni doa Rosario bersama, Perayaan Ekaristi, penyuluhan rohani, konsultasi pribadi, dan makan bersama.
Doa Rosario menjadi kesempatan untuk menyerahkan pergumulan hidup kepada Tuhan melalui perantaraan Bunda Maria. Perayaan Ekaristi mengajak umat memperbarui relasi dengan Kristus dan menimba kekuatan dari Sabda Tuhan. Sementara itu, penyuluhan memberikan penguatan iman sekaligus dorongan praktis untuk menjalani kehidupan yang lebih baik.
Konsultasi pribadi membuka kesempatan bagi warga binaan untuk menyampaikan pergumulan dan kebutuhan pendampingan secara lebih personal. Adapun makan bersama menjadi kesempatan sederhana untuk membangun kedekatan, mempererat persaudaraan, dan menghadirkan suasana kebersamaan.
Keseluruhan rangkaian ini menunjukkan bahwa pembinaan rohani bukan hanya menyampaikan ajaran agama, tetapi juga menghadirkan pendampingan yang menyentuh kehidupan manusia secara utuh. Warga binaan membutuhkan penguatan spiritual, perhatian terhadap pergumulan pribadi, dukungan sosial, serta kesempatan mengembangkan kemampuan diri.
Sinergi Gereja, Kementerian Agama, dan Lapas untuk Pembinaan yang Berkelanjutan
Pelaksanaan kegiatan ini memperlihatkan pentingnya sinergi antara Gereja Katolik, penyuluh agama dari Kementerian Agama, pengurus Gereja Oikumene, dan pihak Lapas dalam mendampingi warga binaan.
Kerja sama lintas pelayanan tersebut diharapkan dapat memperkuat kesinambungan program pembinaan, sehingga warga binaan tidak hanya memperoleh penguatan rohani dalam kegiatan tertentu, tetapi juga mendapatkan dukungan untuk mengembangkan karakter, keterampilan, dan kesiapan kembali ke masyarakat.
Pembinaan yang berkelanjutan memerlukan keaktifan warga binaan, jadwal pelayanan yang teratur, pendampingan yang sesuai kebutuhan, serta keterhubungan antara pembinaan iman dan program pengembangan diri. Dengan pendekatan tersebut, kegiatan rohani dapat menjadi bagian dari proses pemulihan yang lebih menyeluruh.
Pada akhirnya, keberhasilan pembinaan tidak hanya dilihat dari banyaknya kegiatan yang terlaksana, tetapi juga dari tumbuhnya kesadaran untuk meninggalkan perilaku yang merugikan, menghargai sesama, bertanggung jawab atas pilihan hidup, serta berusaha menjalani masa depan dengan lebih baik.
Tembok Tidak Harus Memadamkan Harapan
Kegiatan Bimbingan dan Penyuluhan Rohani di Lapas Kelas IIA Sungai Raya pada Senin, 26 Oktober 2026, menjadi pengingat bahwa setiap manusia memiliki martabat dan kesempatan untuk bertumbuh. Masa pembinaan dapat menjadi titik awal untuk menata kembali kehidupan, memperdalam iman, memperbaiki hubungan dengan keluarga, dan mempersiapkan diri kembali menjadi bagian yang bertanggung jawab dalam masyarakat.
Sabda Tuhan melalui Efesus 4:32–5:8 dan Lukas 13:10–17 mengajarkan bahwa kasih harus diwujudkan dalam pengampunan, belas kasih, dan tindakan nyata. Seperti perempuan yang ditegakkan kembali oleh Yesus, setiap orang dipanggil untuk bangkit dari keterpurukan dan melangkah menuju kehidupan yang lebih baik.
Tembok Lapas dapat membatasi ruang gerak, tetapi tidak seharusnya membatasi pertumbuhan iman, harapan, dan kemauan untuk berubah. Melalui doa, pendampingan rohani, pendidikan, keterampilan, dan dukungan persaudaraan, warga binaan dapat terus menumbuhkan nilai-nilai positif sebagai bekal untuk masa depan.
Kiranya setiap kegiatan pembinaan menjadi benih kebaikan yang bertumbuh dalam hati, menghasilkan buah pertobatan, dan menguatkan langkah menuju kehidupan yang lebih bermartabat.
Sebab, masa lalu tidak harus menjadi akhir dari perjalanan seseorang. Dengan kasih Kristus, setiap hari selalu dapat menjadi awal untuk memilih kebaikan, membangun harapan, dan menyalakan terang bagi sesama.