KabarKalimantan.id - Pemuda Indonesia Raya (PEMIRA) mendorong konsolidasi kekuatan aktivis kepemudaan untuk memperkuat pembangunan dari desa dan pemerataan ekonomi nasional. Langkah ini dinilai strategis dalam menyongsong satu abad Sumpah Pemuda pada 2028 serta mewujudkan Indonesia Emas 2045.
Deklarator PEMIRA, Muh Ageng Dendy Setiawan, menegaskan bahwa semangat persatuan pemuda harus diwujudkan dalam bentuk kerja nyata yang berdampak langsung bagi kesejahteraan masyarakat, terutama dalam mengentaskan kemiskinan dan membuka lapangan kerja di daerah.
"Menjelang satu abad Sumpah Pemuda, kita membutuhkan semangat persatuan yang tidak berhenti pada slogan. Kekuatan pemuda dan aktivis harus dikonsolidasikan menjadi energi positif untuk memperkuat ekonomi rakyat," ujar Dendy dalam agenda konsolidasi pemuda di Gedung Nyi Ageng Serang, Jakarta Selatan, Sabtu (17/10/2026).
Dendy menilai, gagasan pembangunan nasional yang tertuang dalam Asta Cita ke-6 Presiden Prabowo Subianto, yakni membangun dari desa dan dari bawah untuk pemerataan ekonomi perlu ditindaklanjuti dengan program yang terukur dan berorientasi pada kesejahteraan masyarakat.
Koperasi Desa Merah Putih Tak Boleh Sekadar Formalitas
Salah satu poin utama yang disoroti Dendy adalah peran strategis Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih dalam menggerakkan rantai ekonomi kerakyatan.
Ia mengapresiasi langkah pemerintah yang telah mencatat puluhan ribu Koperasi Desa Merah Putih berbadan hukum, serta peresmian operasional ribuan koperasi oleh Presiden Prabowo di berbagai wilayah. Namun, ia mengingatkan agar keberadaan koperasi tersebut memberikan dampak nyata di lapangan.
"Target kita bukan sekadar membangun puluhan ribu koperasi, tetapi memastikan koperasi tersebut benar-benar hidup, produktif, profesional, dan dimiliki oleh masyarakat. Koperasi harus menjadi instrumen untuk memperkuat ekonomi rakyat, bukan sekadar program administratif," tegasnya.
Dendy menambahkan, pengawasan dan transparansi pengelolaan menjadi kunci agar koperasi mampu menyerap hasil produksi lokal, memotong rantai distribusi yang merugikan, serta meningkatkan pendapatan warga.
Dorong Hilirisasi dan Sinergi Potensi Lokal
Selain penguatan lembaga koperasi, Dendy mendorong percepatan hilirisasi komoditas desa di sektor pertanian, perikanan, perkebunan, hingga peternakan. Menurutnya, desa harus bertransformasi dari sekadar penghasil komoditas mentah menjadi pusat pengolahan bernilai tambah.
"Setiap desa memiliki potensi keunggulan yang berbeda. Potensi itu harus dipetakan dan dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi. Jangan sampai masyarakat hanya menjual bahan mentah, sementara nilai tambah terbesar justru dinikmati pihak lain," tutur Dendy.
Ia menekankan pentingnya sinergi antara Koperasi Desa Merah Putih, Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), pelaku UMKM, serta dukungan teknologi dari pemerintah agar rantai produksi hingga pemasaran digital berjalan efisien.
Pemuda Sebagai Pengawal Pembangunan Nasional
Mengakhiri keterangannya, Dendy mengajak seluruh elemen gerakan kepemudaan dan aktivis untuk mengambil peran aktif sebagai mitra strategis sekaligus pengawal kebijakan pemerintah dalam merealisasikan agenda kebangsaan.
"Indonesia Emas 2045 harus kita persiapkan dari sekarang. Kita ingin desa menjadi pusat pertumbuhan ekonomi, koperasi menjadi kekuatan ekonomi rakyat, dan generasi muda menjadi pelaku utama perubahan," kata Dendy.
Melalui konsolidasi ini, PEMIRA berkomitmen mendukung dan mengawal pelaksanaan Asta Cita ke-6 Presiden Prabowo demi mewujudkan Indonesia yang berdaulat, mandiri, adil, dan makmur secara merata di seluruh pelosok tanah air. (*)