Langsung ke konten
Kalbar

KPID Kalbar Ajak Generasi Muda Lestarikan Pantun Lewat Dunia Penyiaran

Radio dan televisi selama ini turut memberikan ruang bagi pelaku seni dan budaya lokal untuk menampilkan karya mereka

Redaksi Diperbarui
Foto bersama para peserta kegiatan Kelas Bakti Penyiaran yang digelar dalam rangkaian Pontianak Biennale di Port 99 Coffee and Eatery, Senin (19/10/2026).
Foto bersama para peserta kegiatan Kelas Bakti Penyiaran yang digelar dalam rangkaian Pontianak Biennale di Port 99 Coffee and Eatery, Senin (19/10/2026).

KabarKalimantan.id – Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Kalimantan Barat mengajak generasi muda melestarikan budaya berpantun melalui kegiatan Kelas Bakti Penyiaran yang digelar dalam rangkaian Pontianak Biennale di Port 99 Coffee and Eatery, Senin (19/10/2026).

Mengusung tema “Rima di Udara: Dari Penyiaran untuk Kebudayaan”, kegiatan tersebut menghadirkan penyiar senior RRI Pontianak, Fitri Febelena, untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman mengenai seni berpantun.

Diskusi yang dipandu penyiar Radio Sonora, Husnul Arif, itu tidak hanya membahas teknik merangkai pantun, tetapi juga mengajak peserta mempraktikkan langsung seni berbalas pantun.

Fitri, yang telah berkiprah selama 20 tahun di dunia penyiaran, membagikan pengalamannya membawakan pantun bersama Pro 4 RRI Pontianak dalam berbagai kegiatan, baik di tingkat nasional maupun internasional.

Menurutnya, pantun merupakan salah satu kekayaan budaya yang dapat digunakan dalam berbagai kesempatan, termasuk sebagai bagian dari komunikasi sehari-hari.

Ia juga mengajak generasi muda terus mempelajari dan menggunakan pantun agar tradisi tersebut tetap dikenal di tengah perkembangan zaman.

Antusiasme peserta terlihat saat sesi praktik berbalas pantun. Mereka mencoba menyusun berbagai jenis pantun, mulai dari pantun nasihat, cinta, hingga jenaka.

Salah satu peserta, Ucup, mahasiswa Politeknik Negeri Pontianak, mengaku kegiatan tersebut mengingatkannya pada pelajaran pantun yang pernah diperoleh semasa sekolah.

Ia pun turut mempraktikkan kemampuannya dengan membawakan sejumlah pantun di hadapan peserta lainnya.

Sementara itu, Ketua KPID Kalimantan Barat, Ramdan, mengatakan lembaga penyiaran memiliki peran penting dalam menjaga dan memperkenalkan kekayaan budaya daerah kepada masyarakat.

Menurutnya, radio dan televisi selama ini turut memberikan ruang bagi pelaku seni dan budaya lokal untuk menampilkan karya mereka.

Peran tersebut juga sejalan dengan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran yang mengatur fungsi penyiaran dalam bidang kebudayaan serta mengamanatkan penyiaran untuk memajukan kebudayaan nasional.

Melalui Kelas Bakti Penyiaran, KPID Kalbar berharap generasi muda semakin tertarik mempelajari seni berpantun sekaligus memahami peran media penyiaran dalam menjaga keberlangsungan budaya lokal.

Kolaborasi dengan Pontianak Biennale tersebut juga menjadi salah satu upaya mendekatkan dunia penyiaran dengan komunitas seni dan masyarakat, khususnya generasi muda di Kalimantan Barat. (*)

Pilihan Lain

Berita Terkait

Lihat Semua