Langsung ke konten
Kalbar

Hadapi Krisis Iklim, Jaga Kalbar Gelar Dialog Lintas Sektor

Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla), kekeringan, serta penurunan muka air di sejumlah jalur sungai juga menjadi persoalan yang perlu dikaji secara komprehensif.

Redaksi
Foto bersama pada Kegiatan Dialog Interaktif bertajuk “Kalbar dalam Tekanan: Ketahanan Energi, Pangan, Air, dan Distribusi di Tengah Krisis Iklim” yang digelar Jaga Kalbar bersama lintas sektor di Coffe Shop 1/2 Jl. Sepakat II Pontianak, Senin (12/10/26)/
Foto bersama pada Kegiatan Dialog Interaktif bertajuk “Kalbar dalam Tekanan: Ketahanan Energi, Pangan, Air, dan Distribusi di Tengah Krisis Iklim” yang digelar Jaga Kalbar bersama lintas sektor di Coffe Shop 1/2 Jl. Sepakat II Pontianak, Senin (12/10/26)/

 

KabarKalimantan.id - Hadapi krisis iklim, Jaga Kalbar menggelar dialog interaktif bertajuk “Kalbar dalam Tekanan: Ketahanan Energi, Pangan, Air, dan Distribusi di Tengah Krisis Iklim” bersama lintas sektor di Coffe Shop 1/2 Jl. Sepakat II Pontianak, Senin (12/10/26).

Hadir dalam dialog tersebut perwakilan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Imawan Mashuri membahas kondisi iklim, potensi kekeringan, dan kesiapsiagaan menghadapi karhutla.

Sales Area Manager Pertamina Patra Niaga Kalimantan Barat, Widhi Tri Adhi Hidayat membahas ketahanan energi dan distribusi BBM di Kalimantan Barat.

Kemudian, perwakilan Badan Gizi Nasional (BGN) Firman Fahrozi membahas Program Makan Bergizi Gratis dan keterkaitannya dengan rantai pasok serta ketahanan pangan.

Founder Jaga Kalbar, Fadil maulana mengatakan digelarnya dialog ini sebagai upaya mendorong kajian dan pengawalan terhadap berbagai persoalan strategis yang dihadapi masyarakat Kalimantan Barat.

"Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh tantangan geografis Kalimantan Barat serta potensi dampak perubahan kondisi iklim terhadap ketersediaan air, produktivitas pertanian, ketahanan pangan, distribusi BBM, dan kebutuhan pokok masyarakat," ucapnya.

Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla), kekeringan, serta penurunan muka air di sejumlah jalur sungai juga menjadi persoalan yang perlu dikaji secara komprehensif.

Fadil Maulana menilai persoalan tersebut tidak dapat dipandang secara terpisah. Gangguan iklim dapat memengaruhi aktivitas pertanian, ketersediaan pangan, kelancaran distribusi energi, hingga biaya hidup masyarakat.

Karena itu, diperlukan ruang dialog yang mempertemukan berbagai pemangku kepentingan untuk mengidentifikasi persoalan, membahas tantangan di lapangan, dan merumuskan rekomendasi yang dapat ditindaklanjuti.

"Kalimantan Barat memiliki potensi sumber daya alam yang besar, tetapi kita juga menghadapi tantangan dalam memastikan energi, pangan, air, dan distribusi tetap terjaga. Persoalan ini perlu dibahas secara serius, berbasis data, dan melibatkan pihak-pihak yang memiliki pengetahuan serta kewenangan," ungkapnya.

Melalui dialog interaktif ini, pihaknya berharap bisa menghasilkan identifikasi persoalan dan rekomendasi yang dapat menjadi bahan advokasi serta pengawalan kebijakan bersama pihak terkait.

Dengan demikian, dialog tidak berhenti pada pertukaran pendapat, tetapi menjadi bagian dari proses untuk mendorong perbaikan yang terukur dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat.

"Bagi saya, menjaga Kalimantan Barat berarti memastikan persoalan masyarakat mendapatkan ruang untuk dibahas, aspirasi mereka tersampaikan, dan rekomendasi yang dihasilkan dikawal agar dapat ditindaklanjuti. Kita membutuhkan kerja sama lintas sektor untuk membangun Kalbar yang lebih tangguh menghadapi tantangan iklim, energi, pangan, dan air," harapnya.

Pilihan Lain

Berita Terkait

Lihat Semua