KabarKalimantan.id – Kekeringan yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat, menyebabkan sumur warga mengering dan menyulitkan masyarakat memenuhi kebutuhan air bersih sehari-hari.
Untuk membantu mengatasi kondisi tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kayong Utara bersama Kawasan Industri Pulau Penebang (KIPP) telah menyalurkan sekitar satu juta liter air bersih kepada masyarakat terdampak sejak Agustus 2026.
Kepala BPBD Kayong Utara, Fathul Bahri, mengatakan dukungan KIPP membantu penyaluran air bersih di empat kecamatan, yakni Sukadana, Simpang Hilir, Teluk Batang, dan Pulau Maya.
Sementara itu, penanganan kekeringan yang dilakukan BPBD secara keseluruhan telah menjangkau lima kecamatan di Kayong Utara.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada KIPP yang sejak awal terus mendampingi upaya penanganan kekeringan. Ini menunjukkan adanya tanggung jawab dan empati terhadap kondisi masyarakat. Ketika bencana terjadi, semakin banyak pihak yang terlibat tentu semakin baik,” ujar Fathul, Rabu (21/10/2026).
Dalam proses distribusi, KIPP menyediakan armada truk pengangkut air dengan volume penyaluran sekitar 13 ribu liter per hari.
Air bersih yang bersumber dari Sukadana diangkut menuju sejumlah wilayah terdampak. Untuk daerah dengan akses darat terbatas, seperti Kecamatan Pulau Maya, distribusi dilakukan menggunakan transportasi air.
Fathul menjelaskan, penentuan lokasi penyaluran mempertimbangkan kebutuhan masyarakat, tingkat dampak kekeringan, serta kondisi akses transportasi.
Di Kecamatan Pulau Maya, bantuan telah menjangkau Satai Lestari, Tanjung Satai, dan Dusun Kecil di Tanjung Nibung.
Distribusi juga dilakukan secara bertahap ke sejumlah wilayah lainnya, antara lain Pemangkat, Medan Jaya, Pulau Kumbang, Teluk Batang, Padu Banjar, Sungai Mata-Mata, Teluk Melano, Sungai Paduan, Simpang Tiga, dan Nipah Kuning.
Kondisi kekeringan membuat sebagian masyarakat harus mencari sumber air alternatif setelah sumur yang biasa digunakan tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Supari, salah seorang warga terdampak, mengatakan persediaan air semakin terbatas selama musim kemarau berlangsung.
“Selama musim kemarau ini, ketersediaan air sangat kurang. Banyak sumur sudah tidak ada airnya,” katanya.
Sebelum menerima bantuan, sebagian warga terpaksa membeli air dalam jumlah terbatas atau memanfaatkan air gambut untuk kebutuhan tertentu.
Supari berharap distribusi air bersih dapat terus dilakukan selama kekeringan masih berlangsung.
“Kami berharap ke depannya bantuan bisa terus berlanjut. Kalau memungkinkan, seminggu dua kali karena masyarakat memang sangat membutuhkan air bersih. Kami mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan ini,” ujarnya.
Hal serupa disampaikan Kepala Dusun Karya Makmur, Desa Medan Jaya, Budiono. Ia mengatakan bantuan air bersih membantu masyarakat memenuhi kebutuhan konsumsi di tengah terbatasnya sumber air.
“Atas nama warga Desa Medan Jaya, khususnya Dusun Karya Makmur, saya mengucapkan terima kasih atas partisipasi dalam pemberian air bersih ini. Bantuan ini sangat membantu,” kata Budiono.
Kolaborasi Penanganan Kekeringan
External Relation Manager KIPP, Sugeng Sulistiyo, mengatakan keterlibatan perusahaan dalam distribusi air bersih merupakan bentuk dukungan terhadap masyarakat yang mengalami kesulitan akibat kekeringan.
Menurutnya, persoalan kekurangan air tidak hanya berkaitan dengan kondisi lingkungan, tetapi juga berdampak langsung terhadap pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat.
“Kami memahami kekeringan bukan hanya persoalan berkurangnya ketersediaan air, tetapi juga menyangkut kebutuhan dasar masyarakat sehari-hari. Karena itu, kami berupaya hadir bersama masyarakat dan memberikan dukungan sesuai kebutuhan di lapangan,” ujar Sugeng.
Ia menambahkan, koordinasi dengan BPBD diperlukan agar bantuan dapat menjangkau masyarakat yang paling membutuhkan, termasuk warga di daerah dengan akses transportasi terbatas.
“Penanganan kekeringan membutuhkan sinergi antara pemerintah, perusahaan, dan berbagai pihak lainnya. Kami berharap kolaborasi ini dapat membantu meringankan beban masyarakat dan memastikan warga tetap mendapatkan akses air bersih selama kondisi kekeringan berlangsung,” katanya.
Penyaluran air bersih secara bertahap diharapkan dapat membantu masyarakat Kayong Utara memenuhi kebutuhan sehari-hari selama sumber air warga belum kembali normal. (*)