Langsung ke konten
Kalbar

BMKG Catat 13 Kabupaten/Kota di Kalbar Nihil Hotspot, Ketapang Masih 20 Titik Panas

Sejumlah wilayah masih berpotensi mengalami karhutla akibat kondisi vegetasi yang mengering

Redaksi Diperbarui
Pantauan Data BMKG pada Rabu (28/10/2026) Terpantau 13 Kabupaten/Kota di Kalbar Nihil Titik Panas.
Pantauan Data BMKG pada Rabu (28/10/2026) Terpantau 13 Kabupaten/Kota di Kalbar Nihil Titik Panas.

KabarKalimantan.id - Kondisi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat menunjukkan perkembangan positif. Berdasarkan pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), sebanyak 13 dari 14 kabupaten/kota di Kalbar tidak terdeteksi memiliki titik panas atau hotspot sepanjang Rabu (28/10/2026).

Sementara itu, sebanyak 20 titik panas masih terdeteksi di Kabupaten Ketapang. Seluruhnya berada pada kategori tingkat kepercayaan menengah.

Data BMKG untuk periode 28 Oktober 2026 pukul 00.00 hingga 23.59 WIB menunjukkan tidak ada satu pun titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi di seluruh wilayah Kalbar.

Jumlah titik panas kategori kepercayaan rendah juga tercatat nihil.

Dengan demikian, seluruh hotspot yang terpantau pada periode tersebut terkonsentrasi di Kabupaten Ketapang, sedangkan 13 kabupaten/kota lainnya tidak menunjukkan adanya titik panas.

Meski demikian, kondisi tersebut belum dapat diartikan bahwa seluruh wilayah Kalbar telah terbebas dari ancaman karhutla.

Titik panas merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi melalui pemantauan satelit. Keberadaannya perlu diverifikasi untuk memastikan apakah berkaitan dengan kejadian kebakaran di lapangan.

Potensi Karhutla Belum Berakhir

Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) tetap mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan.

Ketua Satgas Informasi Bencana BPBD Kalbar, Daniel, mengatakan sejumlah wilayah masih berpotensi mengalami karhutla akibat kondisi vegetasi yang mengering.

“Pada tanggal 28 Oktober 2026 masih terdapat wilayah yang berpotensi terjadi karhutla karena vegetasinya sudah mengering. Oleh karena itu, kami mengimbau kepada seluruh masyarakat agar bersama-sama menjaga lingkungan,” ujar Daniel.

Menurutnya, kondisi vegetasi yang kering perlu menjadi perhatian karena dapat meningkatkan kerentanan lahan terhadap kebakaran apabila terdapat sumber api.

Karena itu, masyarakat diminta tidak melakukan aktivitas pembakaran lahan yang berpotensi memicu kebakaran lebih luas.

“Jangan melakukan pembakaran di lahan apa pun dengan alasan apa pun, agar lingkungan kita terhindar dari bencana asap akibat karhutla,” tegasnya.

Ketapang Masih Perlu Pemantauan

Meskipun tidak ditemukan hotspot berkepercayaan tinggi, keberadaan 20 titik panas kategori menengah di Ketapang tetap memerlukan perhatian.

Pemantauan dan verifikasi lapangan diperlukan untuk mengetahui kondisi sebenarnya serta mengantisipasi kemungkinan munculnya kebakaran.

Sementara itu, nihilnya hotspot di 13 kabupaten/kota menjadi perkembangan positif dalam pemantauan karhutla di Kalbar pada 28 Oktober 2026.

Namun, data tersebut hanya menggambarkan kondisi pada periode pemantauan satu hari dan belum cukup untuk menyimpulkan bahwa risiko kebakaran telah berakhir.

BPBD Kalbar mengingatkan bahwa pencegahan harus tetap dilakukan melalui keterlibatan pemerintah, petugas penanganan karhutla, dan masyarakat.

Masyarakat juga diharapkan segera melaporkan apabila menemukan indikasi kebakaran agar penanganan dapat dilakukan sedini mungkin.

Dengan langkah pencegahan yang konsisten, kondisi nihil hotspot di sebagian besar wilayah Kalbar diharapkan dapat terus dipertahankan tanpa mengabaikan potensi kebakaran yang masih ada. (*)

Pilihan Lain

Berita Terkait

Lihat Semua