KabarKalimantan.id – Kerajinan anyaman asal Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat, dinilai memiliki peluang untuk menembus pasar yang lebih luas, termasuk sektor perhotelan dan dekorasi rumah. Namun, keterbatasan pemasaran dan kapasitas produksi masih menjadi tantangan bagi para perajin lokal.
Peluang tersebut menjadi perhatian dalam kegiatan Penguatan Potensi UMKM Lokal Kabupaten Kayong Utara yang diinisiasi Kawasan Industri Pulau Penebang (KIPP) pada 17–20 Oktober 2026 di Hotel Mahkota Sukadana.
Kegiatan ini diarahkan untuk membantu para perajin meningkatkan kualitas produk, mengembangkan desain, serta memperkuat kemampuan usaha agar kerajinan anyaman tidak hanya dipasarkan secara lokal.
Anggota DPRD Provinsi Kalimantan Barat, Hilaria Yusnani, menilai kerajinan anyaman Kayong Utara memiliki potensi ekonomi yang belum dimanfaatkan secara optimal.
Menurutnya, pemasaran produk selama ini masih banyak mengandalkan transaksi langsung antara penjual dan pembeli. Sementara itu, kesempatan mengikuti pameran dan memperkenalkan produk ke pasar yang lebih luas belum dinikmati oleh seluruh perajin.
“Selama ini penjualan masih sebatas person-to-person dan hanya segelintir yang pernah mengikuti pameran. Sangat disayangkan apabila potensi sebesar ini tidak dikembangkan ke pasar yang lebih luas,” kata Hilaria.
Ia berharap pengembangan kerajinan lokal tidak berhenti pada peningkatan keterampilan produksi, tetapi juga diikuti pembukaan akses pasar yang lebih luas.
CEO dan Founder Kampoeng Anyaman, Danang Sudrajat, melihat keragaman produk anyaman Kayong Utara sebagai modal untuk menjangkau konsumen baru.
Menurutnya, produk anyaman tidak hanya dapat digunakan untuk kebutuhan rumah tangga, tetapi juga berpotensi dikembangkan menjadi perlengkapan hotel dan produk dekorasi interior.
Meski demikian, peluang tersebut membutuhkan kesiapan perajin dalam menjaga mutu, memenuhi pesanan, dan menghasilkan produk dengan kualitas yang konsisten.
“Langkah berikutnya adalah mengoptimalkan manajemen dan kapasitas produksi melalui kemitraan dengan berbagai pihak agar volume produksi meningkat dan ragam produk yang dihasilkan bisa lebih banyak,” ujar Danang.
Penguatan manajemen produksi dinilai penting agar perajin mampu memenuhi kebutuhan pasar dalam jumlah yang lebih besar tanpa mengabaikan kualitas.
Selain itu, inovasi desain yang tetap mempertahankan karakter lokal dapat menjadi nilai tambah bagi produk anyaman Kayong Utara.
Dengan demikian, kerajinan tradisional tidak hanya memiliki nilai budaya, tetapi juga berpeluang berkembang menjadi produk komersial yang menjangkau berbagai segmen konsumen.
KIPP Dorong Penguatan UMKM Secara Berkelanjutan
External Relations Manager KIPP, Sugeng Sulistiyo, mengatakan pengembangan UMKM lokal perlu dilakukan secara berkelanjutan agar keterampilan masyarakat dapat memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar.
Menurutnya, peningkatan kualitas produk perlu berjalan beriringan dengan penguatan kemampuan usaha dan perluasan jaringan pemasaran.
“Kami berharap para perajin dapat terus meningkatkan kualitas, variasi produk, dan kemampuan mengembangkan usaha. Dengan penguatan kapasitas serta terbukanya peluang kemitraan dan pemasaran, anyaman Kayong Utara diharapkan semakin dikenal dan mampu bersaing di pasar nasional,” ujar Sugeng.
Melalui kegiatan tersebut, KIPP berupaya mendorong para perajin agar mampu mengembangkan produk anyaman sesuai kebutuhan pasar tanpa meninggalkan ciri khas kerajinan daerah.
Penguatan keterampilan, inovasi desain, dan kemitraan usaha diharapkan dapat membuka peluang peningkatan pendapatan bagi para perajin.
Meski peluang pasar nasional dan sektor perhotelan dinilai terbuka, realisasinya masih membutuhkan tindak lanjut berupa penguatan kapasitas produksi, pengembangan jaringan pembeli, serta kerja sama pemasaran yang berkelanjutan.